Friday, January 9, 2015


Ketika Nienor hamil, pasukan Orc menyerang Brethil yang merupakan kediaman Turin dan Nienor. Turin berhasil memukul mundur pasukan Orc. Tak lama berselang, serangan datang dari Naga Glaurung. Turin menyerang Glaurung dengan pedang hitamnya, tapi dia terluka dan tak sadarkan diri. Ketika pergi mencarinya, Niniel bertemu dengan Glaurung yang sedang terbaring sekarat. Sebelum mati, Glaurung menyatakan kepada Niniel Turin adalah saudara kandungnya. Tertekan karena duka dan ketakutan, Niniel pergi menuju sebuah sungai beraliran deras. Di sana ia berkata, “Wahai air sungai, renggutlah olehmu Niniel Puteri Hurin, bawa aku tenggelam hingga ke dasar samudera!”. Dia lalu terjun ke sungai bunuh diri.

Ketika Turin sadarkan diri, Brandil mengatakan padanya semua yang telah terjadi. Akan tetapi, dia tidak mempercayai Brandil dan kemudian membunuhnya. Namun beberapa waktu kemudian, ia menyadari bahwa semua yang dikatakan Brandil benar. Turin didera penyesalan yang teramat sangat karena telah membunuh Brandil yang tidak bersalah. Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit dan duka yang terus menghimpitnya dan memutuskan mengakhiri hidupnya. Turin mengakhiri hidup dengan pedangnya sendiri.

Setelah kematian anak-anaknya, Hurin dibebaskan oleh Morgoth. Hurin pergi menuju pintu masuk Gondolin namun Kota Tersembunyi itu ditutup karena Turgon tidak mempercayai  Hurin yang telah dibebaskan Morgoth. Ia takut Hurin diikuti oleh mata-mata Morgoth. Hurin meneriakkan nama Turgon dan ini memberitahukan keberadaan wilayah Gondolin kepada mata-mata Musuh.  Di perjalanan, Hurin bertemu dengan beberapa orang buangan. Bersama mereka pergi menuju Nargothrond.  Di sana, Hurin bertemu dengan Kurcaci Mim yang telah mengkhianati Turin. Mim merebut harta emas dari Glaurung, dan terkena kutukan naga itu.  Di antara harta yang ia dapatkan adalah Nauglamir, hadiah dari Kaum Kurcaci kepada Raja Finrod. Hurin kemudia membunuh Mim dan mengambil Nauglamir.

Hurin membawa kalung Nauglamir tersebut ke Doriath. Dia menghina Thingol karena tak berbuat apa-apa pada putera-puterinya. Ia memberikan Nauglamir kepada Thingol sebagai bayaran atas pengasuhan keluarganya. Nauglamir juga mendatangkan kutukan pada Doriath menjadi penyebab jatuhnya kerajaan itu. Thingol, yang kini memiliki Silmaril, menjadi terikat oleh permata itu. Ia meminta Kurcaci Nogrod memasangkan Silmaril di kalung Nauglamir. Di akhir hidupnya, Hurin bertemu dengan istrinya di makam anak-anak mereka.

Sementara itu, Maedhros, putera Feanor, telah meminta Thingol mengembalikan Silmaril kepadanya dan saudara-saudaranya karena mereka telah bersumpah untuk merebutnya dari tangan siapapun. Tapi Thingol menolaknya mengingat pengorbanan yang telah dilakukan puteri dan menantunya untuk memperoleh permata itu.  Untuk beberapa saat tak ada reaksi dari Maedhros karena ia tengah sibuk menyiapkan pasukan untuk menyerang Angband.  Akan tetapi, saudaranya Celegorm dan Curufin telah bertekad untuk membunuh Thingol jika permata itu tidak dikembalikan dan menyerang Doriath jika mereka kembali dari pertempuran ke Angband. Para Kurcaci memulai pekerjaan mereka merangkai Nauglamir dengan Silmaril.  Kurcaci kemudian menuntut Silmaril untuk mereka karena kalung Nauglamir merupakan kepunyaan nenek moyang mereka. Ketika Thingol menolak permintaan itu, mereka membunuhnya.

Serangan Kurcaci di Doriath sampai di telinga Beren, ia bersama dengan Peri Hutan Ossiriand menyerang kurcaci Nogrod. Beren membunuh raja Kurcaci Nogrod merebut Kalung Nauglamir dari tangannya dan menyerahkannya untuk dikenakan Luthien. Dior, cucu Thingol dan Putera Luthien, menjadi Raja Doriath menggantikan kakeknya. Kejayaan Doriath perlahan bangkit kembali. Lalu pada suatu malam datanglah seorang peri. Dia menyerahkan kepada Dior sebuah kotak. Di dalamnya, Dior mendapati Nauglamir. Dia lalu mengerti bahwa Beren dan Luthien kini telah tiada. Dior lalu mengenakan kalung tersebut di lehernya. Kematian Beren dan Luthien serta pemindahan Silmaril ke tangan Dior sampai ke telinga putera-putera Feanor. Sumpah mereka kembali teringat. Ketika Luthien mengenakan kalung itu tak ada satupun yang berani melawannya, tapi kini dia telah meninggal.


Para putera Feanor meminta Dior menyerahkan Silmaril, tapi ia menolak. Celegorm membujuk saudara-saudarnya melancarkan serangan ke Doriath. Serangan itu datang tiba-tiba.  Lalu terjadilah peperangan saudara kedua kalinya di antara sesama Kaum Peri. Di sana, Celegorm gugur di tangan Dior. Di sana juga gugur Curufin dan si Hitam Caranthir. Akan tetapi, Dior bersama istrinya juga ikut gugur.  Namun, Putera Feanor tidak memperoleh apa yang mereka inginkan. Karena sisa-sisa dari Peri Doriath yang selamat membawa bersama mereka Elwing, puteri Dior, yang kini memegang Silmaril. Mereka melarikan diri ke Mulut Sirion.

Morgoth telah mengetahui wilayah keberadaan Gondolin. Dia mempersiapkan pasukan untuk menyerang kota itu.  Morgoth mengerahkan Balrog, Orc, Naga dan serigala memerangi Gondolin. Pada serangan itu, Gondolin jatuh dan luluh lantak, di sana gugur Turgon Raja Gondolin, Raja Peri Noldor. Para pengungsi Gondolin termasuk Idril dan Tuor, puteri dan menantu Turgon, pindah ke Mulut Sirion. Di sana mereka bergabung dengan pengungsi dari Doriath. Namun, bahaya masih mengancam mereka.

Maedhros dan Maglord mendengan kabar bahwa Elwing selamat pada saat kejatuhan Doriath dan Silmaril kini ada di tangannya di Haven Sirion. Merekapun menyiapkan pasukan untuk menyerang Haven. Para Peri Haven tidak dapat menahan serangan tersebut karena ada kebingungan dan pengkhianatan. Pada akhirnya,  Elwing berhasil kabur atas bantuan Ulmo. Suaminya Earendil berlayar di laut waktu itu, di kapalnya, Vingilote. Elrond dan saudara kembarnya Elros, putera dari Elwing dan Earendil, ditawan dan dibesarkan oleh Maedhros dan Maglor. Serangan ke Haven juga tidak membuat Putera Feanor memperoleh Silmaril.
Bersambung ke bagian 7

0 comments:

Post a Comment

Pengunjung Blog

Komentar Terbaru

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Blog Archive

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers