Thursday, August 28, 2014

CHORUS.

Dua keluarga bermartabat sama dan setara
Di Verona yang indah kami menggelar cerita
Dendam lama kembali menguak prahara
Dimana pertumpahan darah mengotori tangan mereka
Dari sulbi kedua keluarga yang bermusuhan ini
Sepasang kekasih lahir dan bunuh diri;
Dengan kemalangan pilu mengakhiri
Dan dengan kematian mengubur dendam dua keluarga.
Kisah nestapa cinta mereka yang terenggut tiada
Serta kelanjutan dendam antara dua keluarga mereka
Yang tiada siapa dapat akhiri selain kedua pecinta
Sekarang digelar dalam dua jam pementasan kita
Dimana jika hadirin semua mendengar sabar menanti.
Apa yang tertampilkan disini, kerja keras kami akan mungkin terobati

BABAK I. ADEGAN I
VERONA . TEMPAT UMUM

Masuk Sampson dan Gregory (menenteng pedang dan simpul ikat pinggang) dari keluarga Capulet.

SAMPSON.
Gregory, kehidupan di sini lebih baik daripada di sawah ladang. Disini kita menenteng pedang bukanya arit maupun parang.
GREGORY.
Karenanya kita akan merasa muak?
SAMPSON.
Tidak. Arit yang biasa kau pegang mengasarkan tangan. Dengannya kau akan bertangan kasar
GREGORY
Tanganmu yang berpedang telah merasa cukup kemuakkan.
SAMPSON.
Bukan muak tapi tepat, jika tiba waktu menyerang.
GREGORY.
Tapi terlambat tahu kapan itu waktu yang tepat untuk menyerang.
SAMPSON.
Anjing di rumah Montague kan jadi sabetan tendanganku.
GREGORY.
Menendang tumitmu supaya lari, begitu maksudmu.
SAMPSON.
Anjing Montague yang akan lari, ketika aku menghabisinya.
GREGORY.
Benar, anjing akan lari, duduk, atau tetap berdiri sekehendak tuannya, tapi ketika ia melihatmu ia akan mengubermu ke pagar.
SAMPSON.
Mundur dari pagar, begitu maksudmu.
GREGORY.
Maju ke pagar! Satunya-satunya Montague yang akan mundur takut karenamu hanyalah para wanita mereka.
SAMPSON.
Sudah semestinya! Karena setelah aku kalahkan Montague, aku akan menendang anjingnya dan menampari para kerabat perempuannya.
GREGORY.
Kau bicara omong besar—tetap saja kau masih seorang petani.
SAMPSON.
Benar, Gregory, ketika tiba waktunya untuk membajak Montague, menggarunya, kemudian menanamkannya ke dalam tanah.
GREGORY.
Oleh karenanya, setiap peladang adalah pejuang, dan setiap ladang adalah kemenangan
SAMPSON.
Dan setiap Montague ibarat sepetak kebun, dan aku penggarapnya.
GREGORY.
Kau seperti ayam jago berani dikandang, Sampson, berkokok menang sementara tak pernah bertemu lawan.
SAMPSON.
Bukan salahku, jika musuhku tak berani berhadapan muka denganku. Karena mereka tahu aku sang tak tertaklukkan.
GREGORY.
Kau yakin mereka tak menganggapmu seperti seekor ikan, karena kau tampak seperti bersepuh perak, tapi kau begitu tergeletak langsung tersungkur terengah-engah. Tunjukkan sepuhan perakmu—di situ telah muncul dua orang dari keluarga Montague!
Masuk dua orang pelayan lain [Abram dan Balthasar]
SAMPSON.
Perakku sudah berkarat. Majulah kau! Aku akan mendukungmu.
GREGORY.
Lihat kan kau hanya berani di belakang—berani di depan yang aku inginkan
SAMPSON.
Jangan pedulikan aku.
GREGORY.
Musuh kita juga takkan mempedulikanmu.
SAMPSON.
Tetaplah mematuhi hukum; biarlah mereka pertama melanggarnya.
GREGORY.
Aku akan meludah saat aku lewat, itu akan membuat mereka merasa terhina.
SAMPSON.
Orang meludah karena mual atau terserang batuk berdahak. Aku akan menggigit jempolku dihadapan mereka; yang mana juga akan membuat mereka merasa terhina.
ABRAM.
Apa kau mengigit jempolmu kepada kami, tuan?
SAMPSON.
Aku memang menggigit jempolku tuan.
ABRAM.
Apa kau mengigit jempolmu kepada kami, tuan?
SAMPSON.  [berbisik pada Gregory]
Apa kita mematuhi hukum jika aku bilang iya?
GREGORY. [berbisik pada Sampson]
Tidak
SAMPSON.
Tidak, tuan. Aku tidak mengigit jempolku padamu; tapi aku mengigit jempolku,tuan.
GREGORY.
Anda berkelahi, tuan?
ABRAM.
Berkelahi? Tidak, tuan.
SAMPSON.
Tapi jika kau ingin tuan, aku akan jadi lawanmu aku setangguh dirimu
ABRAM.
Tidak lebih baik.
SAMPSON.
Baiklah, tuan.
GREGORY. [berbisik pada Sampson]
Katakan lebih baik! Salah seorang kerabat majikanku datang.
SAMPSON.
Iya, lebih baik darimu tuan.
ABRAM.
Kau bohong.
SAMPSON.
Hunus pedangmu jika kau pria. Gregory perlihatkan sabetan indah pedangmu.
Mereka berkelahi
Masuk Benvolio
BENVOLI O.
Berhenti berkelahi, bodoh!
Meleraikan pedang mereka
Turunkan pedangmu. Kalian tak mengerti akibat dari perkelahian ini.
Masuk Tybalt.
TYBALT.
Untuk apa, kau beradu pedang ditengah para pelayan tak berhati ini?
Berbalik kau,Benvolio! Sambutlah kematianmu
BENVOLI O.
Aku hanya ingin menjaga kedamaian. Turunkan pedangmu,
Atau bantu aku melerai orang-orang ini.
TYBALT.
Apa, kau tarik pedangmu dan berbicara damai? Aku benci kata itu
Seperti aku membenci neraka, semua Montague, dan dirimu.
Majulah, pengecut!
Mereka berkelahi
Masuk petugas dan tiga atau empat penduduk kota dengan pentungan.
OFFICER.
Gunakan pentungan kalian! Serang! Leraikan pedang mereka!
CITIZENS.
Maju dengan Capulet! Maju dengan Montague!
Masuk Capulet dengan gaunnya bersama istrinya
CAPULET.
Suara ribut-ribuat apa ini? Berikan aku pedang panjangku, ho!
LADYCAPULET.
Untuk apa kau meminta pedang?
CAPULET.
Ku bilang mana pedangku! Montague datang
Melambaikan pedangnya di hadapanku.
Masuk Montague dan istrinya
MONTAGUE.
Dasar kau Capulet kurang ajar! Jangan pegang, lepaskan aku.
LADYMONTAGUE.
Kau tak boleh maju melangkah mencari perkelahian.
Masuk pangeran Escalus dengan rombongannya.
PRINCE.
Budak pemberontak, musuh kedamaian
Perusuh ketenangan kota ini. Mereka takkan mendengar? Kalian manusia beradab atau binatang biadab,
Yang melampiaskan kebuasan kalian
Dengan tumpahan kelabu pucat dari nadi kalian!
Karena sakit siksaan, dari tangan yang berlumuran itu
Turunkan senjata kalian
Dan dengarkan hukuman dari pangeran penguasa kalian.
Tiga kali pertengkaran ditempat umum, berawal dari adu mulut
Karena ulahmu, Capulet tua, dan Montague
Telah tiga kali mengganggu kedamain jalanan kota kita
Jika kalian merusuh di sini sekali lagi
Nyawa kalian akan menjadi penebus kerusuhan itu
Sekarang, semua kalian bubar.
Kau, Capulet, ikut bersamaku;
Dan, Montague, temui aku sore nanti
Untuk membicarakan perkara ini.
Sekali lagi, demi pedih kematian, semuanya bubar.
 Semua keluar panggung selain Montague, istrinya dan Benvolio.
MONTAGUE.
Siapa yang memancing perkelahian ini?
Katakan, ponakanku, apakah kau yang memulainya?
BENVOLI O.
Di sini muncul para pelayan musuhmu
Dan juga pelayanmu, berkelahi sebelum aku datang
Aku mendekat untuk melerai mereka. Lalu tiba-tiba datang
Tybalt dengan amarah berapi-api menghunus pedang
Dengannya, dia hembuskan hinaan ke telingaku
Dia lambaikan pedangnya, tak ada yang terluka
Selain desisan hinaan angin
Saat kami beradu pedang dan beradu angin
Pangeran datang menyelamatkan nyawa Tybalt.
LADY MONTAGUE.
Dimana Romeo? Apa dia terlihat muncul hari ini?
Aku berharap dia tak terlibat dalam perkelahian berdarah ini.
BENVOLIO.
Bibi, satu jam sebelum fajar aku terbangun
Dan berjalan keluar hanyut dalam renungan
Di sana di bawah deretan pohon sycamore
Yang tumbuh dari tembok barat ku lihat puteramu itu
Aku menyapanya, tapi dia mengacuhkanku
Lalu menghilang ke dalam rimbun hutan
Menghilang karena kelelahan diriku—
Dan aku pergi darinya yang juga pergi dariku
MONTAGUE.
Berkali pagi dia pergi ke sana
Dengan berlinang air mata merinai embun
Menambah pekat kabut pagi dengan hembusan nafasnya;
Tapi ketika mentari ceria terbit benderang
Menyembunyikan diri dari terang mentari putraku yang pemurung
Pulang ke rumah di dalam kamar sendiri berkurung,
Menutup jendelanya, mengunci diri dari cahaya siang
Untuk membuat baginya gelap seperti malam
Petaka dan pertanda buruk pastilah semua ini
Kecuali ada nasihat baik menghapuskan penyebab perkara ini.
BENVOLIO.
Pamanku yang budiman, paman tahu penyebab perkara ini?
MONTAGUE.
Aku tak tahu dan tak pula bisa mengerti.
BENVOLIO.
Bukankah dia selalu berbicara terus terang.
MONTAGUE.
Kami telah memintanya bercerita atau memberi kami pertanda
Tapi dia berpetuah pada dirinya sendiri
Menjaga rapat rahasia menutup diri
Seperti seekor ulat dalam selubung kepompong
Yang tak pernah menampakkan sayapnya yang bersemarak warna
Semisalnya kami tahu dari mana datang duka yang hampirinya
Tentunya kami bisa carikan penawar untuknya.
Romeo masuk
BENVOLIO.
Lihat itu dia. Menyingkirlah
Aku akan mencari tahu perkara dukanya.
MONTAGUE.
Aku akan menyingkir bahagia karena kedatanganmu
Untuk mendengar pengakuan jujur darinya. Ayo, istriku, kita pergi dari sini.
Montague dan Istrinya meninggalkan panggung
BENVOLIO
Selamat pagi, sepupu.
ROMEO.
Apa hari masih pagi?
BENVOLIO
Baru jam sembilan
ROMEO.
Celaka aku! Di kala sedih detik-detik terasa lama.
Apakah tadi itu ayahku yang berjalan tergesa-gesa?
BENVOLIO.
Benar. Kesedihan apa yang membuat hari-hari Romeo terasa lama?
ROMEO.
Tidak memiliki apa yang bisa membuatnya terasa singkat.
BENVOLIO.
Bukan apa, tapi siapa. Kau sedang jatuh cinta?
ROMEO.
Tertolak-
BENVOLI O.
Oleh cinta?
ROMEO.
Tertolak oleh keinginan orang yang ku cinta.
BENVOLIO.
Dari jauh cinta tampak sangat menawan,
Tapi begitu dia menghunjam ke hatimu, ia bisa menjadi sangat kejam,
ROMEO.
Kejam karena dia hanya mengunjam di hatiku
Andai terhunjam di hatinya juga, cinta itu akan terasa manis!
Dimana kita akan makan malam? Ya tuhan! Pertengkaran apa yang telah terjadi?
Tak perlu kau bilang, karena aku sudah mengetahuinya
Ini semua karena kebencian, tapi lebih dengan cinta.
Lalu kenapa wahai kedamaian bertengkar! Wahai kebencian cinta!
Wahai ketiadaan yang pertama tercipta!
Wahai keringanan  berat! Kebijaksanaan tak berguna!
Ketakteraturan dari wujud teratur!
Bulu pena, kabut cemerlang, api dingin, kesakitan sehat!
Terjaga dalam tidur,  tiada yang ada!
Aku benci cinta yang tak berkasih  yang kini ku rasa.
Apa kau tertawa?
BENVOLIO.
Tidak, sepupu. Aku lebih ingin menangis.
ROMEO.
Sepupu budiman, menangisi apa?
BENVOLIO.
Menangisi hatimu yang cengeng.
ROMEO.
Sungguh teman yang tak berteman dirimu kiranya!
Berduka diatas himpitan beban berat dipikiranku
Yang kau kan memperberatnya dengan dukanya
Lebih dari itu. Cinta yang telah kau tunjukkan
Memberikan lebih banyak duka dari cinta yang kini ku rasa
Cinta ibarat asap yang mengepul dari nafas berhela
Andai terpuaskan, bara api menyala di mata para pencinta
Andai terintangi, samudera meluap oleh air mata mereka
Apalagi ini? kegilaan terselubung santun
Beruang dirantai, angsa cemerlang kini telah membubung terbang
Sampai nanti, sepupu
BENVOLIO.
Tunggu! Aku ikut denganmu
Jika kau meninggalkanku di sini, kau salah paham.
ROMEO.
Meninggalkanmu? Diriku telah hilang: apakan ini wajah yang dulu ku punya?
Ini bukan Romeo, dia berada di tempat lain
BENVOLIO.
Katakan padaku dalam dukamu, siapakah dia yang kau cinta?
ROMEO.
Untuk apa, haruskah aku meratap bercerita padamu?
BENVOLIO.
Meratap atau tidak, terserah padamu.
Kau bersedih, jadi katakan siapa yang mempersedihmu.
ROMEO.
Kau seperti menyuruh orang tua ringkih memahat nisan mereka
Dalam duka, sepupu, aku mencintai seorang wanita.
BENVOLIO.
Aku sudah tahu ketika aku menebakmu sedang jatuh cinta.
ROMEO.
Sungguh kau ahli penembak. Wanita yang kucinta sangatlah cantik.
BENVOLIO.
Target yang indah mudah untuk didapat.
ROMEO.
Kau kan meleset. Dia takkan terpanah oleh busur Cupid.
Dia tak akan tinggal untuk mendengar kata-kata manis rayuan.
Tidak pula menenggang dia yang sedang rindu.
BENVOLIO.
Apa dia telah bersumpah untuk tidak mencinta sama sekali?
ROMEO.
Kesia-siaan kecantikan takkan terlampaui
Sungguh suci,kecantikan dia
Menuju berkah dia buatku putus asa
Dia telah bersumpah untuk berhenti bercinta, dan dalam sumpah itu
Aku telah hidup dalam kematian untuk menceritakannya
BENVOLIO.
Dengarlah aku: Lupakanlah dia.
ROMEO.
Ajarkan ku untuk melupakannya!
BENVOLIO.
Berikan kebebasan pada matamu.
Pandanglah kecantikan lainnya.
ROMEO.
Itu adalah cara mengingatkanku bahwa dia jauh lebih cantik.
Sampai jumpa. Kau tak bisa ajarkan aku melupakannya.
BENVOLI O.
Aku jamin itu.
Meninggalkan Panggung

Bersambung ke act 1 scene 2

Friday, August 15, 2014


Karna, alias Radeya adalah nama Raja Angga dalam wiracarita Mahabharata. Ia menjadi pendukung utama pihak Korawa dalam perang besar melawan Pandawa. Karna merupakan kakak tertua dari tiga di antara lima Pandawa: Yudistira, Bimasena, dan Arjuna. Dalam bagian akhir perang besar tersebut, Karna diangkat sebagai panglima pihak Korawa, dan akhirnya gugur di tangan Arjuna. Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Karna menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria. Meski angkuh, ia juga seorang dermawan yang murah hati, terutama kepada fakir miskin dan kaum brahmana. Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan seorang putri bernama Kunti yang pada suatu hari ditugasi menjamu seorang pendeta tamu ayahnya, yaitu Resi Durwasa. Atas jamuan itu, Durwasa merasa senang dan menganugerahi Kunti sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa dan mendapat anugerah putra darinya. Pada suatu hari, Kunti mencoba mantra tersebut setelah melakukan puja di pagi hari. Ia mencoba berkonsentrasi kepada Dewa Surya, dan sebagai akibatny, dewa penguasa matahari tersebut muncul untuk memberinya seorang putra, sebagaimana fungsi mantra yang diucapkan Kunti. Kunti menolak karena ia sebenarnya hanya ingin mencoba keampuhan Adityahredaya. Surya menyatakan dengan tegas bahwa Adityahredaya bukanlah mainan. Sebagai konsekuensinya, Kunti pun mengandung. Namun, Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Dalam perang bharatayudha, Karna berada di pihaka korawa dan gugur di tangan Arjuna. Dalam serial TV Mahabharat, tokoh Karna diperankan oleh Aham Sharma. Berikut merupakan lirik dari entry theme song atau lagu Karna dalam serial tersebut beserta terjemahan bahasa indonesianya. Lagu ini merupakan sebuah sloka yang ditulis dalam bahasa sansekerta.


Surya putra karnah..
Wahai Karna Sang Putera Dewa Surya
Parshuram shishyaha karnah..
Karna murid dari Parashurama

Suto va sut putro vayo
Tak mengapa daku  seorang kusir kereta, putera kusik kereta
Vakova bhavamyaham..
Atau siapapun daku tidaklah penting
Daiva yettam kule janm
Terlahir dari sebuah kasta adalah keputusan takdir
Madayettam tu paurusham
Namun kekuatan dan kemahsyuran ku gapai sendiri
Paurusham paurusham..

Karena kemampuan, karena kemampuan


Suto va sut putro vayo
Tak mengapa daku  seorang kusir kereta, putera kusik kereta
Vakova bhavamyaham..
Atau siapapun daku tidaklah penting
Daiva yettam kule janm
Terlahir dari sebuah kasta adalah keputusan takdir
Madayettam tu paurusham
Namun kekuatan dan kemahsyuran ku gapai sendiri
Paurusham paurusham..
Karena kemampuan, karena kemampuan

Tuesday, August 12, 2014



Postingan ini bermula ketika admin dimintai tolong untuk menerjemahkan sebuah sloka oleh seorang teman. yang admin kira ditulis dalam bahasa Hindi.  Karena tidak mengerti bahasa hindi jadilah admin juga meminta bantuan kepada seorang teman yang memiliki kenalan facebook orang-orang india, akan tetapi sayangnya merekapun tidak mengerti arti sloka tsb. Usut punya usut, ternyata sloka tersebut tertulis dalam bahasa Sansekerta dan merupakan entry theme song tokoh Arjuna dalam serial Mahabharat. Setelah browsing sana-sini dan tidak menemukan terjemahan sloka atau lagu yang berjudul Gandiv Dhaari Arjun itu, admin akhirnya mendownload sebuah kamus sanksrit-english dan menerjemahkannya sendiri. Karena sekarang lagi indonesia pada demam Serial Mahabharat, admin berinisiatif untuk memposting arti dari lagu Gandiv Dhaari Arjun tsb, kira-kira berikut terjemahannya,




Gandiv dhaari arjuna aa aa..
Pujian untuk Arjuna pemilik busur Gandiwa
Mahesvashaa dhananjaya aa aa..
Kepada Dhananjaya sang pemanah perkasa
Gandiv dhaari arjuna
Pujian untuk Arjuna pemilik busur Gandiwa
Mahesvashaa dhananjaya Aa aa..aa aa..aa aa..
Kepada Dhananjaya sang pemanah perkasa
Tato arjunaha Brit manaa bhabhurvah
Maka bergembiralah wahai Arjuna
Vightajwarah Krishanashchasatya
Sang teman sejati Krisna yang tak kenal putus asa
Vaghha sindhhtyovi
Sang pemilik samudera kerupawanan
Bhavita arjunha
Diberkatilah Arjuna
Gandiv dhaari arjuna aa aa..
Pujian untuk Arjuna pemilik busur Gandiwa
Mahesvashaa dhananjaya aa aa..
Kepada Dhananjaya sang pemanah perkasa
Gandiv dhaari arjuna
Pujian untuk Arjuna pemilik busur Gandiwa
Mahesvashaa dhananjay
Kepada Dhananjaya sang pemanah perkasa




Pengunjung Blog

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers

Google Followers