Tuesday, June 3, 2014


Ambrogio adalah seorang pemuda yang suka berpetualang. Terlahir dan besar di Italia, dia selalu ingin berpetualang ke Yunani untuk meramal nasibnya kepada Orakel (Peramal Yunani) Delphi. Saat dia beranjak dewasa, Ambrogio pergi berlayar dengan sebuah kapal hingga mencapai perbatasan barat Yunani, dekat Astakos. Kemudian, dia berpetualang ke arah timur hingga pada akhirnya dia tiba di kota Delphi.

Delphi adalah kota suci di mana didirikan kuil agung untuk Apollo, dewa matahari. Kota ini juga merupakan kampung halaman Phytia seorang Orakel terkenal. Biasanya Phytia akan bersemedi di dalam kuilnya dan membacakan ramalan yang diilhamkan oleh Apollo,  kepada mereka yang mendatangi Orakel tersebut.

Sesampainya di kuil itu, Ambrogio hendak berbicara mengutarakan keinginannya kepada Phytia. Tapi Pythia hanya mengatakan beberapa patah kata yang tidak jelas: “Kutukan, Rembulan. Darah akan tertumpah.”

Setelah mendengar semua itu, Ambrogio menjadi bingung, dan tidak dapat tidur di malam itu. Dia terus terjaga di luar kuil, memikirkan maksud dari perkataan Pythia yang tadi ia dengar. Ketika matahari terbit, Ia sadar bahwa ia tidak tertidur sepicingpun malam itu. Pada saat dia dia kembali menuju kota, dia melihat seorang wanita cantik bergaun putih berjalan menuju kuil. Segera dia menuju wanita tersebut dan berkenalan. Wanita itu bernama Selene, juga gadis penjaga kuil yang juga saudari dari Sang Orakel.

Selama beberapa hari berikutnya, setiap subuh pada pagi harinya Ambrogio bertemu dengan Selene di depan kuil sebelum dia melakukan tugasnya sebagai penjaga kuil. Lambat laun, merekapun saling jatuh cinta.

Pada hari terakhirnya berada di Yunani, Ambrogio mengajak Selene menikah dan ikut pulang bersamanya ke Italia. Wanita itupun menyetujui ajakannya. Ambrogio mengatakan pada Selene ia akan mempersiapkan segala sesuatunya serta berjanji akan menemuinya di luar kuil tempat mereka biasa bertemu esok pagi.

Apollo, dewa matahari telah mengawasi mereka sejak lama. Apollo juga menaruh hati pada Selene yang cantik dan menjadi murka karena Ambrogio telah datang ke kuil serta mengambil salah satu gadis penjaga kuil miliknya tersebut. Saat matahari terbenam pada hari itu, Apollo muncul di hadapan Ambrogio dan mengutuknya. Semenjak hari itu dan seterusnya, cahaya matahari yang mengenai Ambrogio meskipun sedikit akan membuat kulitnya terbakar.

Ambrogio menjadi putus asa. Dia berencana pergi meninggalkan Yunani dengan Selene pada esok paginya, namun karena kutukan Apollo ia tak dapat menemui Selena ketika matahari terbit seperti yang telah ia janjikan. Karena tidak menemui jalan keluar, ia pergi menuju gua  yang membawanya kepada Hades dan meminta perlindungan kepadanya. Hades, dewa penguasa dunia bawah, mendengarkan semua cerita Ambrogio dan memberikannya penawaran. Jika dia bisa mencuri busur perak Artemis untuknya, Hades berjanji akan memberikan  dia serta Selene perlindungan di dunia bawah. Dalam kesepakatan itu, Hades juga memberikan busur kayu ajaib besera 11 anak panah yang akan dia gunakan untuk berburu. Dia harus mempersembahkan hasil buruannya kepada Artemis untuk menarik kepercayaanya sehingga ia bisa mencuri busur perak tersebut. Sebagai jaminan, Ambrogio harus meninggalkan jiwanya di dunia bawah hingga ia kembali bersama busur perak Artemis. Seandainya dia tidak kembali bersama busur itu, ia akan tinggal selamanya bersama Hades dan takkan pernah kembali ke Selene. Tidak mempunyai pilihan, Ambrogio menyutujui tawaran itu.

Ambrogio tidak bisa memberitahu Selene apa yang telah terjadi padanya. Dia ingin menuliskan parkamen untuknya tetapi dia tidak memiliki alat untuk menulis. Lalu dengan menggunakan panah pemberian Hades, dia membunuh seekor angsa. Dengan menggunakan bulu angsa tersebut sebagai pena dan darahnya sebagai tinta, Ambrogio menuliskan surat untuk Selene mengatakan dia tidak bisa menemuinya tapi dia akan berusaha mencari jalan keluar agar mereka bisa bersama lagi. Dia meninggalkan surat itu di tempat mereka akan bertemu lalu pergi dari tempat itu menyembunyikan diri dari cahaya matahari.

Selene merasa merasa sangat kecewa setelah dia menemukan dan membaca surat itu. Tidak ingin memancing kemarah Apollo lebih jauh lagi, Selene kembali melakukan tugasnya di kuil seperti biasanya. Esok paginya, Selene kembali ke tempat mereka akan bertemu, tapi sama seperti sebelumnya dia tidak mendapati Ambrogio di sana. Dia menemuka sehelai parkamen lagi bertuliskan darah. Setelah dibukanya, ternyata Parkamen itu adalah puisi cinta dari Ambrogio.

Setiap pagi selama 44 hari berikutnya, Ambrogio terus membunuh angsa dan menggunakan darahnya untuk menulis puisi cinta untuk kekasihnya. Setelal mengeringkan darahnya, dia mempersembahkan angsa buruan itu kepada Artemis, dewi pemburu dan dewi bulan yang juga merupakan saudari Apollo. Dia berharap meskipun ia bisa mencuri busur itu, Artemis akan merasa tersanjung karena persembahannya dan membujuk saudaranya untuk melenyapkan kutukan yang ia berikan pada dirinya. Pada hari ke 45, Ambrogio hanya memiliki satu anak panah yang masih tersisa. Ketika menembakkan anak panah itu, tembakannya meleset dari angsa yang akan dipanahnya. Kehabisan panah, dia tidak memiliki darah untuk menulis puisi untuk Selene dan angsa buruan untuk dipersembahkan pada Artemis. Bersimpuh ke tanah, dia merasa sedih, kecewa, dan putus asa.

Melihat kemampuannya berburu serta semua persembahan yang telah Ambrogio berikan kepadanya, Artemis muncul di hadapanya. Dia memohon kepada Artemis untuk meminjamkannya anak panah dan busur miliknya agar dia bisa membunuh satu ekor angsa lagi dan menuliskan surat terakhir buat Selene.

Artemis yang menaruh iba padanya meminjamkanya busur perak dan anak panah. Ambrogio mengambil busur itu, dengan putus asa dia berlari menuju gua dimana dia bertemu Hades. Mengetahui apa yang terjadi, Artemis murka dan mengutuknya juga. Dia mengutuk kulit Ambrogio akan terbakar ketika tersentuh perak. Ambrogio menjatuhkan busur perak Artemis dan tersungkur ke tanah kesakitan.

Artemis sangat marah dan kecewa karena kebohongan Ambrogio.  Namun Ambrogio memohon ampun padanya dan menjelaskan dia terpaksa menerima tawaran Hades karena kutukan Apollo dan karena cintanya yang besar untuk Selene. Dia sangat menyesal terpaksa melakukan itu karena tidak ada pilihan lain.

Mendengar cerita sedihnya itu, Artemis kembali menaruh iba padanya dan memberinya satu kesempatan lagi. Dia menawarkan untuk membuat Ambrogio menjadi pemburu yang hebat sepertinya, dengan kecepatan dan kekuatan seperti dewa dan gigi taring untuk mengisap darah binatang yang bisa dia gunakan untuk kembali menulis puisi cinta buat Selene. Sebagai ganti akan keabadian yang akan dia berikan, Artemis membuat kesepakatan yang harus dipatuhi Ambrogio. Dia dan Selene harus pergi dari kuil Apollo dan hanya memuja Artemis selamanya. Karena Artemis merupakan seorang dewi perawan dia ingin seluruh pengikutnya tetap suci dan tidak menikah. Oleh karena itu, Ambrogio dan Selene tidak boleh saling menyentuh, berciuman, dan memiliki anak.

Ambrogio menyetujui kesepakatan itu. Setidaknya, dia dan Selene masih bisa tetap bersama. Dia membunuh seekor angsa untuk menuliskan surat pada Selene. Di surat itu dia menyuruh Selene menemuinya di sebuah kapal di dermaga. Menjelang subuh pada keesokan hari, Selene menemukan surat itu dan lari dari kuil itu sebelum matahari terbit agar tidak ketahuan oleh Apollo.

Ketika Selene tiba di dermaga, ia mendapati kapal seperti yang dikatakan Ambrogio dalam suratnya namun tidak ada Ambrogio. Selenepun pergi mencari Ambrogio ke dalam lambung kapal. Di situ dia menemukan sebuah peti mati dan sebuah surat dari Ambrogio yang memberitahunya memerintahkan nahkoda kapal segera berlayar, dan juga memberitahunya agar membuka peti mati itu ketika matahari terbenam. Dia melakukan seperti apa yang ada pada surat itu, ketika matahari terbenam dia membuka peti mati tersebut dan mendapati Ambrogio dalam keadaan hidup dan sehat.

Pasangan itu berlayar menuju Efesus, di sana mereka tinggal di sebuah gua ketika siang hari dan memuja Artemis setiap malamnya di kuil yang mereka dirikan untuk dewi itu. Mereka hidup bahagia bersama selama bertahun-tahun tanpa pernah bersentuhan, berciuman dan memiliki anak
 
Setelah sekian tahun berlalu, Ambrogio masih tampak tetap muda karena keabadian yang diberikan Artemis kepadanya. Tapi tidak dengan Selene, dia tetap menua sejalan dengan usianya layaknya manusia fana. Pada akhirnya dia jatuh sakit dan sekarat. Ambrogio sangat sedih karena dia tak bisa bergabung dengan Selene di alam kematian karena dia telah menyerahkan jiwanya  pada Hades. Pada suatu malam, dia pergi berburu ke hutan dan mendapati seekor angsa cantik berwarna putih bersih sedang berenang sendirian di danau. Dia membunuh angsa itu dan mempersembahkannya pada Artemis, memohon padanya agar Selene juga diberikan keabadian agar mereka bisa tetap bersama selamanya.

Artemis muncul di hadapan Ambrogio.  Sebagai balasan atas kesetiaan dan penyembahan yang telah Ambrogio berikan selama ini, Artemis memberinya satu penawaran terakhir. Artemis berkata pada Ambrogio bahwa dia boleh menyentuh Selene hanya untuk satu kali ini untuk meminum darahnya. Dengan melakukan ini, Ambrogio akan membunuh tubuh fana Selene tapi semenjak itu dia akan berubah abadi karena darahnya yang telah bercampur dengan darah Ambrogio. Dan dengan darah itu, mereka bisa memberikah kehidupan abadi bagi siapapun yang mau meminumnya. Pada mulanya Ambrogio menolak melakukan ini, tetapi setelah dia menceritakannya pada Selene, wanita itu meminta Ambrogio melakukan itu agar mereka tetap bersama selamanya. Setelah meyakinkan dirinya, Ambrogio menggigit leher Selene dan menghisap darahnya agar bercampur dengan darah dalam tubuhnya. Ketika dia meletakkan tubuh pucat itu, tiba-tiba tubuh Selene bersinar terang dan dan terbang tinggi ke langit. Ambrogio menyaksikan jiwa Selene yang kini bersinar terang terangkat ke langit menyatu dengan Artemis di bulan. Ketika jiwa Selene sampai di  sana, bulan memancarkan cahaya yang sangat terang dan cemerlang.

Sejak itu Selene menjadi dewi bulan, dan di setiap malamnya ia akan menyinari bumi dengan cahaya terangnya serta dengan cahaya itu menyentuh Ambrogio kekasihnya serta anak-anak mereka- para vampir baru yang didalam diri mereka mengalir campuran darah Ambrogio dan Selene.

Translated From Vampire Origin Story

Dipercayai bahwa Ambrogio dan Selene merupakan Vampire yang pertama kali ada di bumi.
Di percayai bahwa melantunkan sebuah pujian terhadap Selene bisa merubah seseorang menjadi Vampire. Dalam banyak Kultus pemujaan Vampir, ode atau lagu pujian tersebut bisa dijadikan mantra bagi siapa yang ingin jadi Vampire. Berikut odenya!

 
Ode To The Vampire Mother

Oh goddess of the darkness
Wahai sang dewi kegelapan
mother to the immortal
Ibu dari makhluk abadi
let me be reborn as your child
Perkenankan aku terlahir sebagai anakmu
let your light absorb my own
Perkenankan cahaya terangmu merasukiku

Allow me passage to the darkness
Tunjukkan jalan menuju kegelapan
as from your immortal womb
Menuju rahim abadimu
into the arms of your children
Menuju pelukan anak-anakmu
to whom I will call brother
yang bisa ku panggil saudarku

Oh moonlight
Wahai cahaya bulan
let me be reborn as your child
Perkenankan aku terlahir sebagai anakmu
guide the dark ones to me
Bimbinglah sang kegelapan  padaku
so I shall be born again
Agar aku bisa terlahir kembali

Reactions:

2 comments:

Pengunjung Blog

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Blog Archive

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers

Google Followers