Monday, May 12, 2014



Paradise Lost

John Milton
Buku Pertama

Tentang  pembangkangan pertama manusia, dan buah
Pohon terlarang itu dengan citarasa fana
Membawa maut ke dunia dan semua petaka kita
Dengan hilangnya Eden, hingga sang Manusia pilihan
Menebus kita, dan merebut kembali tempat berkah
Bersenandunglah, Wahyu Surgawi, yang bertahta di puncak rahasia
Oreb, atau sinai, telah mengilhami
Sang gembala  yang pertama mengajari benih pilihan
Pada mulanya bagaimana langit dan bumi
Bermula dari kekacauan, atau jikalau bukit Sion
Lebih menyenangkanmu, dan Sungai Siloa
Mengalir deras di samping peramal Tuhan, demikianlah aku
Memohon tolongmu dalam lagu petulanganku
Tanpa setengah hati terbang membumbung tinggi
Di puncak gunung  Aonia, sementara hendak mencapai
Hal-hal yang belum tercoba dalam prosa dan rima
Dan mulialah Engkau, O Roh, yang lebih menyenangi
Melebihi segala Kuil hati yang bersih dan murni
Tuntunlah aku, sebab Engkau tahu, pada mulanya Engkau
Datang dengan sayap-sayap agung terbentang
Laksana merpati bersarang di luas dasar jurang
Dan menerangi apa yang gelap dalam diriku
Terangilah, apa yang rendah dan sokonglah
Hingga sampai pada tutur agung ini
Aku boleh meminta pemeliharaan kekal
Serta membenarkan segala jalan Tuhan kepada segenap insan
Katakanlah dahulu- sebab surga tidak menyembunyikan apapun dari matamu
Tidak pula dalamnya jurang neraka- katakan apa perkara
Terusirnya nenek moyang kami, dari keadaan bahagia
Diberkahi sorga begitu tingginya, hingga terusir darinya
Dari pencipta mereka,  dan melanggar perintah-Nya
Sebab satu  larangan saja akan jadi penguasa dunia
Siapa yang pada mulanya membujuk mereka pada pembangkangan hina itu?
Sang ular neraka; ialah dengan tipu dayanya
Dibangkitkan oleh dengki dan dendam, menipu
 Ibu umat manusia, pada masa jayanya
Telah terusir dari surga, dengan semua bala tentaranya
Diantara malaikat malaikat pemberontak, dengan bantuanya, bercita-cita
Mendudukkan diri di Kemuliaan diatas kawan-kawanya
Ia percaya mampu menandingi sang maha tinggi
Jika ia menentang, dan dengan hasrat rakusnya
Melawan tahta dan kerajaan Tuhan
Menimbulkan perang durhaka di surga dan pertempuran penuh keangkuhan
Dengan usaha sia-sia. Dia oleh kuasa tertinggi
Terlempar dengan kepala terbakar dari langit benderang
Dengan reruntuhan mengerikan dan nyala api, turun
Ke neraka tanpa dasar, berdiam di sana
Dalam belenggu rantai rantai adamant dan api penghukuman
Yang telah berani menentang kuasa Sang Maha Kuasa
Sembilan kali jangka waktu siang dan malam
Dalam hitungan manusia, dia, bersama  pengikutnya yang mengerikan
Tergeletak takluk, berbaring dalam teluk berapi
Terkutuk, meskipun abadi. Namun hukumanya
Menimbulkan banyak murka dalam dirinya; sebab kini pikiranya
Oleh karena kebahagiaan yang terenggut dan derita yang abadi
Menyiksa dia: ke sekeliling ia lemparkan tatapan ratapnya,
Yang menyaksikan siksaan dan kecemasan besar
Berbaur dengan keangkuhan dan kebencian
Seketika, sejauh mata malaikat ia memandang menyaksikan
Keadaan muram, kacau, dan liar
Sebuah penjara bawah tanah, disegala sisi melengkung
Laksana perapian besar menyala-nyala; namun dari nyala itu
Tak ada cahaya; hanya kegelapan yang tampak
Yang hanya memberikan pemandangan-pemandangan duka
Tempat petaka, bayang muram, dimana kedamaian
Dan kesenangan tak pernah singgah, harapan tak pernah datang
Yang datang pada semua, hanya siksa tiada henti
Tetap memburu, dan banjir api, dinyalakan
Oleh api belerang yang tak pernah padam
Demikianlah tempat penghukuman abadi telah dipersiapkan
Bagi para pemberontak itu; di sini penjara mereka ditetapkan
Dalam kegelapan yang amat gulita, dan pembagian mereka ditempatkan
Tersingkir jauh dari Tuhan dan cahaya surga
Dari tiga kali pusat terjauh semesta
Sungguh betapa berbedanya dari tempat mereka terusir
Di sana kawan-kawan terjatuhnya, dilanda
Air bah dan topan api yang menderu-deru
Segera dia melihat mereka, dan yang menggeliat di sampingnya
Ia yang kuasanya kedua setelahnya, dan sesudahnya dalam kejahatan
Jauh sebelum ia dikenal di Palestina, dan di beri nama
Beelzebub sang musuh besar
Dan kemudian di surga dipanggil setan, dengan kata-kata penuh tantangan.
Memecah kediaman yang mengerikan, maka demikianlah bermula
‘ Jikalau engkau ialah dia- namun wahai para malaikat terjatuh! Betapa berbedanya
Dari dia, yang di alam berkah cahaya
Berselubung terang agung, melebihi
Beribu-ribu malaikat-malaikat terang-  jika ia oleh persekutuan bersama
Pikiran dan tujuan bersama, harapan setara
Dan marabahaya dalam usaha gemilang tersebut
Digabungkan denganku dulu, kini dengan derita yang sama
Dalam keruntuhan setara; menuju jurang dalam yang kau lihat
Dari tempat tertinggi terusir;  begitu jauh yang kuat terbukti
Dia dengan gunturnya; dan hingga saat itu siapakah yang tahu
Kuasa tangan yang mendahsyatkan itu? Namun bukan karena mereka
Bukan pula pada apa yang menjadi murka Penguasa
Bisa menjatuhkan kita, maka aku bertobat atau berubah
Meski tampak berubah dari luar, pikiran teguh itu
Dan cela yang mulia dari perasaan baik yang terluka
Bersama dengan yang paling kuasa membangkitkanku menentang
Dan menuju pertempuran hebat membawa
Tak terhitung pasukan ruh bersenjata
Yang berani membenci pemerintahanya, dan, lebih memilih aku
Kekuatan penuhnya ditentang kekuatan musuh
Dalam perang penuh ragu di padang-padang surga
Dan mengguncang takhtanya.  Kenapa memangnya kalau kalah di medan perang?
Tidak semua terhilang- kehendak tak terlaklukkan
Dan pelajaran dendam, kebencian abadi
Dan keberanian yang tak pernah menyerah  atau tunduk
Apa lagi yang belum tertaklukkan?
Kemuliaan tak pernah oleh murka dan kuasanya
Terampas dariku. Untuk bersujud dan memohon ampun
Dengan lutut bertekuk, dan menuhankan kekuasaanya
Yang oleh sebab kengerian tangan ini baru-baru ini
Meragukan kekuasaanya- yang sememangnya rendah
Yang merupakan aib dan kemaluan dibawah
Kejatuhan ini; sebab oleh takdir kekuatan tuhan
Wujud surgawi ini takkan pernah pudar
Sebab, dengan pengalaman pada kejadian hebat ini
Dalam senjata tidak lebih buruk, dalam penglihatan jauh maju
Kita dengan harapan mungkin menggemilangkan diri
Untuk melancarkan kuasa atau tipu daya perang abadi
Tak terdamaikan lagi dengan musuh besar kita
Yang sekarang menang dan dalam suka cita berkelebihan
Sendirian memerintah sebagai tirani surgawi
Demikianlah berbicara sang malaikat murtad, meski dalam duka
Menyombongkan diri namun dirundung dalam putus asa
Dan segera ia dijawab oleh kawanya
‘ Wahai Pangeran, Wahai pemimpin kuasa-kuasa bertakhta
Yang memimpin para Serafim terkepung dalam perang
Di bawah tingkahmu, dan , di dalam perbuatan-perbuatanmu penuh kengerian
Tak kenal takut, mengancam Raja kekal surga
Dan menguji keunggulan agung-Nya
Apakah ditopang oleh kekuatan, peluang atau takdir
Terlalu jelas aku melihat dan menyesalkan peristiwa itu
Yang dengan kejatuhan menyedihkan dan kekalahan keji
Telah melenyapkan kita dari surga dan para malaikatnya
Dalam kehancuran total terkalahkan
Sejauh tuhan dan hakikat ilahi
 Bisa binasa: sebab pikiran dan ruh tetap
Tak terkalahkan, dan kekuatan kan segera kembali
Melalui seluruh kemuliaan dan kebahagiaan yang telah hilang
Di sini ditelan derita yang tiada henti
Namun bagaimana jika Dia penakluk kita (Yang kini ku tahu
Ku percaya maha  kuasa, sebab tak ada sedemikian
Kuasa yang bisa mengalahkan kekuatan kita)
Telah menyisakan bagi kita semangat dan kekuatan utuh
Agar sepenuhnya kita menderita dan menahan segala luka
Hingga kita dapat menyanggupi dendam murkanya
Atau melayaninya sebagai budak-budaknya
Demi kebenaran perang, apapun urusanya
Di sini, di pusat neraka melebur bara
Atau melakukan perintahnya dalam jurang duka?
Bagaimana itu dapat menolong kita meski kita belum merasa
Kekuatan yang belum sirna, atau makhluk abadi
Mengalami penghukuman abadi?
Dengan suara lantang Musuh Besar menjawab-
‘Kerub yang terusir, menjadi lemah memang sengsara
Melakukan atau menderita: namun yakinlah dengan ini
Berbuat kebaikan takkan pernah menjadi kerja kita
Tapi hanya berbuat kejahatan untuk kesenangan kita
Sebab bertentangan dengan kehendak mulianya
Yang kita lawan. Jikalau demikian penyediaanya
Dari kejahatan kita muncul kebajikan                  
Pekerjaan kita harus menyimpangkan maksud itu
Dan dari kebajikan akan ada cara kejahatan
Yang pada kali ini akan berhasil gemilang
Memberinya duka, jika aku tidak gagal, dan merusak
Rencana-rencana terdalam dari tujuan takdir
Tapi lihatlah! Sang pemenang telah memanggil kembali
Rencana-rencana dendamnya dan pemburuan
Kembali ke gerbang surga: hujan belerang
Mengejar kita dalam badai berhembus menyalakan
Gelombang berapi dari puncak ngarai
Surga menerima kita jatuh; dan guntur
Bersayap kilat api merah murka menyala
Mungkin telah kehabisan sambaranya, dan kini berhenti
Meraung dalam jurang dalam tak bertepi
Jangan kita buang kesempatan ini, apakah hinaan
Atau murka terpuaskan dari musuh kita
Tataplah olehmu padang suram di sana, menyedihkan dan liar
Tempat kehancuran, hampa cahaya
Kecuali redup dari api-api yang menyala-nyala ini
Menyampakkan pucat dan mengerikan? Ke sana kita kan pergi
Dari hempasan gelombang-gelombang berapi ini
Disana kita beristirahat, jikalau ditemukan istirahat di sana
Dan, mengumpulkan kembali kekuatan kita yang tercabik-cabik
Berunding bagaimana kita bisa menyerang sekuatnya
Musuh kita, memperbaiki kesalahan kita
Bagaimana mengatasi bencana yang mengenaskan ini
Kekuatan apa yang bisa kita peroleh dari harapan
Selain tekad dari putus asa
Demikianlah berbicara setan kepada sahabat-sahabatnya
Dengan kepala terangkat diatas ombak, dan mata
Yang bersinar menyala-nyala; bagian-bagian lainya
Bertelengkung dalam banjir, panjang dan besar
Terbaring mengapung berlipat-lipat, dalam ukuran besar
Seperti ukuran besar  yang diceritakan dongeng-dongeng
Titan atau putera bumi, yang berperang melawan Jove
Briaeros atau Typhon, yang sarangnya
Terletak dekat Tarsus kuno, atau monster laut itu
Leviathan, yang dari segala pekerjaan Tuhan
Telah menciptakan kengerian besar merenangi arus samudera
Dia, tertidur lelap di buih buih Norwegia
Nakhoda perahu kecil terombang-ambing malam
Mengiranya sebuah pulau, seperti dongeng para pelaut
Dengan jangkar terhunjam dikulitnya yang bersisik
Berlabuh di sisinya di bawah angin, sementara malam
Mengungkung laut berharap pagi berlambat-lambat
Demikian terentang panjangnya Musuh Besar terbaring
Terbelenggu danau api; takkan akan pernah dari sana
Bangkit, maupun mengangkat kepala, kecuali dengan kehendak
Dia sang penguasa Surga
Membiarkan dia pada rencana-rencana busuknya
Hingga dengan kejahatan yang berulang-ulang, ia mungkin
Menumpuk diatas dirinya kutuk, sementara ia mengingini
Berbuat jahat pada yang lain, dan murka yang mungkin menampak
Bagaimana niat jahatnya pada akhirnya menghasilkan
Kebaikan tak berhingga, keagungan, dan ampunan, ditunjukkan
Pada manusia yang olehnya tergoda, namun padanya
Kebingungan, amarah, dan dendam ditumpahkan
 Kedepan ia bangkit dari telaga api
Sosok perkasanya; di tiap tangan bara menyala
Terdorong mundur puncak-puncak runcing bergulung
Berasap tebal, meninggalkan tengah lembah-lembah kengerian
Lalu dengan sayap-sayap terentang ia arahkan terbangnya
Mengawang, mengapung di atas udara gelap
Yang beratnya terasa tak biasa; sehingga tiba di tanah kering
Ia  turun- seolah tanah itu terbakar
Oleh batu, seperti danau air api
Dan demikian tampak wujudnya laksana kekuatan
Angin bawah samudera memindahkan sebuah bukit
Yang direnggut dari Pelorus, atau sisi terserak
Gunung Etna berpetir, yang berkobar-kobar
Dan lavanya mengandung api
Dirasuk amuk mineral, dan dibantu hembusan angin
Meninggalkan dasar hangus yang diselimuti
Oleh bau busuk dan asap. Demikianlah peristirahatan ditemukan telapak
Dari kaki-kaki yang terhina. Ia diikuti kawanya
Keduanya berbangga telah mengarungi banjir sungai Stygia
Seperti para dewa, dan dengan mereka kekuatan terpulih
Bukan karena pertolongan Kuasa tertinggi
‘apakah ini tempatnya, tanahnya, cuacanya,
Kemudian berkata Malaikat Suci yang terhilang, ‘inikah takhta
Sebagai ganti surga?- kesuraman duka ini
Sebagi tukaran cahaya langit itu? Maka demikianlah jadinya, sebab dia
Yang sekarang berkuasa bisa memutuskan dan memerintahkan
Apa yang benar: paling jauh darinya adalah yang terbaik
Yang telah disetarai akal budi, kuasa telah diungguli
Diatas seterunya. Selamat tinggal, ladang-ladang bahagia
Tempat sukacita berdiam selamanya! Terpujilah, ketakutan! Terpujilah,
Alam neraka! dan engkau, bara api menyala-nyala
Terimalah pemilik barumu- dia yang memiliki
Pikiran yang takkan terubah tempat dan masa
Pikiran adalah tempatnya sendiri, dan dengan sendirinya
Bisa merubah surga jadi neraka, neraka menjadi surga
Tak peduli di mana saja, asalkan aku masih tetap sama
Akan jadi apapun aku, selalu kecil daripada dia
Yang telah dibuat besar oleh guntur? Di sinilah setidaknya
Kita akan merdeka; yang maha kuasa tidak membangun
Di sini untuk seterunya, takkan mengusir kita dari sini
Di sini kita bisa memerintah aman, dan dalam pilihanku
Untuk berkuasa dengan hasrat yang sama, walapupun di neraka
Lebih baik meraja di neraka daripada diperbudak di surga
Tapi kenapa kita biarkan kawan-kawan setia kita
Rekan-rekan dan sekutu-sekutu kejatuhan kita
Terbaring heran di telaga kelupaan itu
 Dan memanggil mereka tidak untuk berbagi dengan kita tempat mereka
Dalam hunian sengasara ini, atau sekali lagi
Dengan kekuatan dikumpulkan mencoba apa yang belum
Tercapai di surga, atau yang terhilang di neraka?
Demikianlah setan berbicara; dan Beelzebub kepadanya
Menjawab-  panglima laskar-laskar terang
Yang , selain yang maha kuasa, bisa mengalahkan
Jika segera mereka mendengar suara itu, ikrar hidup mereka
Akan  harapan dalam takut dan bahaya- terdengar sering
Dalam buruk sekali, dan ujung bahaya
Peperangan, ketika murka,dalam semua pertempuran
Yang mereka yakin- mereka akan segera memulihkan
Keberanian baru untuk bangkit, meski sekarang telentang
Menyembah dan bersujud di danau api sana
Seperti kita sebelumnya, terkejut dan tercengang
Tak heran kenapa, terjatuh dari ketinggian yang begitu menghancurkan
Keciutanya lenyap ketika Musuh utama
Bergerak menuju tepi pantai; perisai beratnya
Murka cahaya, padat, besar, dan bulat
Tergantung dipunggungya. Lingkaran lebarnya
Bergantung di bahunya seperti bulan, yang lingkaranya
Tampak melalui kaca optika seniman Tuska
Pada senja, di puncak bukit Fesolia
Atau di Valdarno, untuk menemukan negeri-negeri baru
Sungai-sungai, atau pegunungan, di dunianya berbintik
Tombaknya- sepanjang tinggi pohon cemara
Ditebang di bukit-bukit Norwegia, untuk tiang layar
Laksamana-laksamana perkasa-cuma seperti tongkat
Ia melangkah- menopang langkah-langkah terseok
Di atas kapur yang membakar- tidak seperti langkah-langkahnya ketika
Di atas biru langit surga; dan hawa terik
Melemparnya ke sisi tepi, kubah api
Walau demikian ia tetap bertahan, hingga ke pantai
Di laut api itu ia tegak berdiri, dan memanggil
Tentara-tentaranya- Para Malaikat, yang tergeletak terasuk
Tebal seperti dedaunan musim gugur yang menutupi bandar-bandar
Di Vallombrosa, tempat bayang-bayang Etruria
Menjangkau tinggi meneduhinya; atau rerumputan yang terserak
Berterbangan, ketika angin angin ganas Orion berhembus
Memancing amarah pantai laut merah, yang ombaknya menenggelamkan
Busiris dan pasuka-pasukan berkuda Memphia
Sementara dengan kebencian mereka mengejar
Pesinggah dari Goshen,  yang memandang
Dari tepi pantai mayat-mayat mereka yang  terapung
Dan roda-roda kereta yang hancur terserak. Begitu tebal tersebar
Hina dan terhilang, mereka berbaring, menutupi Banjir lava
Dalam ketercengangan karena perubahan buruk mereka.
Dia berteriak begitu lantang sehingga lubang-lubang dalam
Neraka bergema:- ‘para pangeran, penguasa,
Ksatria, Kesuma Surga- dulu milikmu; kini telah hilang
Jikalau ketercengangan dapat menggapai
Roh-roh abadi! Ataukah kau memilih tempat ini
Untuk membaringkan diri setelah kelelahan perperangan
Kebaikanmu yang penat, sebab penghiburan kau temukan
Untuk tidur sini, seperti di lembah-lembah surga?
Ataukan kalian bersujud terhina
Mengagungkan sang penakluk, yang sekarang memandang
Kerub dan Seraph berguling di banjir api
Dengan senjata dan panji-panji terserak, hingga akhirnya
Para pengejar tangkasnya dari gerbang surga melihat
Peluang dan turun mengejar kita
Melemahkan, atau dengan peir-petir sabung menyabung
Menghunjamkan kita hingga ke dasar teluk ini?
Terbangun, bangkit, dan terjatuh selamanya!
Mereka mendengar, dan merasa malu, lalu mereka bangkit berdiri
Dengan sayap terkuak, seperti seorang manusia akan berjaga
Dalam tugas, ditemukan tertidur oleh mereka yang ditakuti
Bangkit dan sempoyongan sebelum tegak berdiri.
Bukan pula mereka tak menampak keburukan besar
Tempat mereka berada, atau tidak merasakan sakitnya siksa
Namun panggilan Pimpinanya segera mereka patuhi
Tak terhitung jumlahnya. Seperti tongkat keras
Putera Amram di hari kemalangan mesir
Melambai di pantai, memanggil awan membumbung tinggi
Belalang-belalang, melengkungi angin timur,
Di sana di kerajaan Fira’un durjana menggantung
Seperti malam, dan menyelimuti daratan Nil;
Tak berhitung jumlahnya malaikat-malaikat durhaka itu terlihat
Melayang-layang dengan sayap dalam jubah neraka,
‘berhimpitan atas, bawah dan sekeliling api
Hingga, muncul tanda, tombak terangkat
Dari Sultan mereka melambaikan arah
Jalan mereka, dengan seimbang mereka turun
Di atas belerang kokoh, dan memenuhi seluruh daratan:
Berjumlah besar seperti penduduk utara
Tak pernah menuangkan dari sulbinya untuk menyebrangi
Rhene atau Danaw, ketika putera-putera barbarnya
Datang seperti air bah di selatan, dan menyebar
Di dasar Gibraltar hingga ke padang pasir Libya
Maju ke depan, setiap kelompok dan masing-masing rombongan
Para pemimpin dan kepala menuju tempat dimana berdiri
Panglima agung mereka- berbentuk laksana dewa, dan berwujud
Mengungguli manusia; wibawa penguasa;
Dan Kuasa yang sebelumnya duduk di tahta-tahta surga,
Meskipun nama-nama mereka dalam catatan surga kini
Tidak lagi diingat, dihapus dan dilenyapkan
Oleh pemberontakan mereka dari Buku Kehidupan.
Bukan pula mereka telah di antara putera-putera Hawa
Menerima nama baru, hingga, berkelana di muka bumi
Melalui ketahanan Tuhan terhadap perkara manusia
Dengan kepalsuan dan kedustaan sebagian besar
Umat manusia mereka rusak mengabaikan
Tuhan pencipta mereka, dan yang tak tampak
Keagungannya yang merubah mereka
Dari wujud brutal, diperhiasi
Dengan agama-agama gemerlap penuh megah dan emas
Dan iblis dipuja laksana para dewa
Kemudian di antara manusia dia dikenal berbagai nama,
Dan berbagai berhala di tengah-tengah dunia kuno
Katakanlah, wahai ilham, nama mereka dikenal, siapa yang pertama, siapa yang terakhir
Terbangun dari tidur di ranjang berapi itu
Karena panggilan Kaisar mereka, sesuai urutan
Datang berdiri berbaris di atas pantai telanjang,
Sementara kerumunan keji masih berdiri jauh?
Pemimpin mereka dari jurang neraka
Berkelana mencari mangsa di muka bumi, berani menetapkan
Kedudukan mereka, lama sesudah, kedudukan Tuhan
Altar-altar mereka dengan altar-altarnya, dewa-dewa dipuja
Di antara bangsa-bangsa sekeliling, dan berani berdiam dekat
Yehova yang mengguntur dari Sion, yang bertahta
Di tengah-tengah Kerubim; yea, sering ditempatkan
Di dalam altar-altarnya sendiri kuil mereka,
Kebencian-kebencian; dan dengan hal-hal terkutuk
Tempat-tempat sucinya dan pesta-pesta khidmatnya dinajiskan
Dan dengan kegelapan mereka berani merendahkan cahayanya
Dulu, Moloch, raja angkara, berlumuran darah
Dari korban manusia, dan air mata para orang tua;
Meskipun, karena genderang dan kecapi berkumandang
Tangisan anak mereka tak terdengar melintasi api
Menuju berhala kejam mereka. Dia Ammonite
Disembah di Rabba dan padang-padang berairnya
Di Argob dan di Basan, hingga ke sungai
Ujung terjauh Arnon. Tidak juga puas dengan demikian
Lancang wilayah-wilayahnya, hati paling bijak
Sulaiman dia bimbing dengan tipu daya membangun
Kuil baginya tepat menghadap rumah Tuhan
Di atas bukit hina itu, dan membuat belukarnya
Lembah indah di Hinnom, sejak itu dinamai Tophet
Dan disebut Gehenna hitam, sebuah gambaran neraka
Lalu Chemos, kecabulan putera-putera Moab
Dari Aboar hingga Nebo dan daratan liar
Selatan terjauh Abarim; di Hesebon
Dan Horonaim, daerah kekuasaan Seon, di balik
Lembah berbunga Sibma berselimut sulur-sulur anggur,
Dan Eleale hingga ke telaga Asphaltic:
Peor julukanya, ketika dia memikat
Israel di Sittim, di pengembaraan mereka dari sungai Nil
Untuk mempersembahkan baginya ritual asusila, yang mencelakan mereka.
Dari sana juga persundalan penuh nafsunya ia perbesar
Bahkan hingga ke bukit kekejian, di sisi belukar
Moloch pembunuh, terangkara kebencian,
Hingga Yosia budiman mengusirnya ke neraka
Bersama ini datang mereka dari perbatasan arus
Eufrat tua hingga ke aliran yang memisahkan
Mesir dari daratan Syria, memiliki nama-nama umum
Baalim dan Ashtaroth- yang laki-laki
Dan wanita. Sebab roh, sekehendak mereka
Dapat berubah jadi pria atau wanita, atau keduanya, begitu lembut
Dan tidak bercampur hakikat murni mereka
Tidak terikat dan terbelenggu oleh sendi atau tungkai berlengan
Bukan pula dibentuk dari kekuatan tulang-tulang rapuh
Ibarat daging yang memberatkan, namun, dalam wujud yang mereka kehendaki
Lebar atau padat, terang atau kabur
Bisa melaksanakan niat-niat mereka yang tak tampak,
Dan dengan perbuatan-perbuatan kasih atau kebencian diadakan.
Demi mereka bangsa Israel sering membelakangi
Penopang hidup mereka, dan sering meninggalkan
Altas sucinya, bersujud merendah ke hadirat
Dewa-dewa kebinatangan: sebab bagaimana kepala mereka tertunduk rendah
Tersungkur dalam perang, tertunduk di bawah mata tombak
Musuh-musuh yang dibenci. Bersama ini dalam sepasukan
Datanglah Astorreth, yang di Funisia dinamai
Astarte, sang ratu surga, dengan tanduk-tanduk bulan sabitnya
Yang kepada patung berkilaunya setiap malam di bawah rembulan
Perawan-perawan Sidon mempersembahkan sumpah dan kidung mereka
Dan Sion meski tanpa nyanyian, berdiri
Kuilnya di gunung pelangaaran itu, di bangun
Oleh raja yang gemar berzina yang hatinya, meskipun besar
Terayu wanitaa-wanita cantik penyembah berhala, jatuh
Kepada berhala-berhala keji. Thammuz datang selanjutnya di belakang,
Yang lukanya setiap tahun di Lebanon menarik
Gadis-gadis Syria meratapi takdirnya
Dalam nyanyian-nyanyian kasih sepanjang musim panas,
Sementara Adonis yang lembut dari batu asalnya
Mengalir ungu ke laut, seumpama dengan darah
Thammus yang terluka setiap tahun: cerita cinta
Merasuki puteri-puteri Sion dengan membara,
Yang nafsu-nafsu liarnya di serambi suci
Di lihat Ezekiel, ketika, dengan penglihatan dibimbing,
Matanya menampak penyembahan berhala-berhala gelap
Yang dilakukan perkumpulan Yehuda. Kemudian datang dia
Yang meratap sejadinya-hjadinya, ketika tabut tertawan
Mencacatkan patung kebinatanganya, kaki dan tangan terpenggal,
Di kuilnya sendiri, di ujung tangga,
Di mana ia tersungkur dan menghinakan para pemujanya:
Dagon namanya, iblis samudera, dari atas manusia
Dan kebawah ikan; namun memiliki kuil yang tinggi
Menjulang di Azotus, ditakuti di sepanjang pantai
Palestina, di Gath dan Ascalon,
Dan Accaron serta perbatasan Gaza.
Kepadanya mengikut Rimmon, yang tahta gembiranya
Adalah damaskus yang indah, di tepi-tepi sungai yang subur
Abbana dan Pharpar yang berarus jernih.
Dia juga menentang rumah tuhan begitu beraninya:
Dulu dia menyesatkan seorang Lepra dan menjadi seorang raja
Ahaz, penakluk bodohnya, yang dia bujuk
Menajiskan altar Tuhan dan menggantiya
Dengan istiadat Syria, dimana dibakar
Korban-korban busuknya, dan memperhiasai dewa-dewa
Yang telah ia taklukkan. Setelah mereka muncul
Sekelompok, yang dulu diketahui dengan nama
Osiris, Isis,Orus, dan kereta mereka
Dengan wujud mengerikan dan sihir penuh aniaya
Mesir yang penuh kekerasan dan Imam-imamnya mencari
Dewa-dewa pengelana mereka tersamar dalam wujud-wujud kebinatangan
Bukanya wujud manusia. Tidak pula Israel lolos
Dari kekejian ini, ketika mereka membuat dengan emas pinjaman
Patung anak lembu di Oreb; dan sang raja pemberontak
Melipatgandakan dosa itu di Bethel dan Dan,
Menyerupakan penciptanya dengan lembu perumput
Yehova, yang, di suatu malam, ketika dia lewat
Dari mesir berkelana, menjatuhkanya dengan satu pukulan
Keturunan pertamanya dan semua dewa-dewanya yang mengembik.
Belial datang terakhir; saat itu ruh yang keji melebihinya
Tiada yang telah terjatuh dari surga, atau dengan lebih jijik menyukai
Kejahatan sejadi-jadinya. Untuknya tiada kuil menjulang
Atau altar yang mengepul; namun siapa yang lebih sering dari dia
Di kuil-kuil dan altar-altar, ketika para imam
Berubah fasik, seperti anak-anak Eli, yang memenuhi
Rumah Tuhan dengan nafsu dan kejahatan?
Di banyak sidang dan istana dia juga bertahta,
Dan di gemerlap kota-kota, dimana keributan
Kerusuhan naik membumbung menara-menara tinggi
Dan pelanggaran serta kesalahan, ketika malam
Menggayuti jalanan, maka berkelana putera-putera
Belial, meluap-luap dengan kekurangajaran dan kemabukan.
Menyaksikan jalanan Sodom, dan malam itu
Di Gibeah, ketika pintu rumah
Menampakkan para wanita untuk diperkosa.
Mereka ini yang terkemuka dalam urutan dan kuasa:
Sisanya terlalu panjang diceritakan; meski jauh lebih terkenal
Dewa-dewa Ionia- yang dijunjung oleh orang-orang Java
Tuhan-tuhan, yang kemudian diakui langit dan bumi,
Yang disanjung-sanjung orang tua mereka- Titan, putera pertama langit
Dengan keturunan raksasanya, dan hak lahirnya direnggut
Oleh Saturnus muda: dia yang lebih kuasa dari Jove,
Miliknya dari putera-putera Rhea berukuran sama;
Demikian bertahtalah Jove si kudeta. Mereka, pada mulanya di Kreta
Dan Ida dikenal, dari sana di puncak bersalju
Olympus yang dingin memerintah di tengah-tengah awan,
Langit tertinggi mereka; atau di tebing Delphi,
Ataupun di Dodona, dan melewati segala batas
Negeri Doria;  atau yang dengan Saturnus tua
Melarikan diri dari Adria ke padang-padang Hesperia,
Dan mengembara melalui pulau terjauh Keltik .
Semua ini dan lebih banyak lagi datang; namun dengan tatapan-tatapan
Tertunduk dan muram; namun sedemikain nampak
Samar-samar sepenggal suka cita karena menemukan pemimpin mereka
Bukan dalam keputusasaan, menemukan mereka belum terhilang
Dalam kekalahan, yang diwajahnya tamapak
Sebentuk warna keraguan. Tapi dia, keangkuhanya
Segerah memulihkan, dengan kata-kata angkuh, yang mengandung
Arti bernilai, namun bukan sesungguhnya, perlahan-lahan membangkitkan
Keberanian mereka yang melemah, dan menyirnakan ketakutan mereka.
Dan seketika perintah diberikan, pada suara peperangan
Terompet-terompet dan genderang lantang, tertegak tinggi
Panjinya yang perkasa. Kebanggan sombong itu dituntut
Azazel sebagai haknya, seorang Kerub bertubuh tinggi
Yang dari tongkat berkilaunya mengibarkan
Panji kerajaanya; yang, menjulang berkibar-kibar
Bersinar seperti meteor di arus angin,
Dengan permata dan kilau emas disulam megah,
Baju-baju zirah dan piala-piala Seraphim; sementara itu
Logam yang berdenting-denting menyuarakan:
Yang olehnya balantentara semesta menaikkan
Sahutan yang merobek jurang neraka, dan di luarnya
Membawa ketakutan pada kuasa kehancuran dan malam-malam panjang
Sesaat seketika melalui kesuraman terlihat
Sepuluh ribu panji berkibar di udara,
Dengan warna semarak melambai-lambai: bersama mereka terangkat
Sebelentara tombak; dan ketopong-ketopong bergerombol
Muncul, dan perisai-perisai terangkat dalam susunan tebal
Yang tak terukur dalamnya. Dan segera mereka bergerak
Dalam Phalanz sempurna susunan Doria

Oleh suling dan seruling lembut- sebegaimana dinaikkan
Ke ketinggian semangat paling mulia pahlawan-pahlawan lama
Bersiap senjata menuju perang, dan bukanya dengan murka
Namun bernafaskan keberanian, keteguhan, dan tak tergentar
Oleh ngerinya maut untuk menyerah atau melarikan diri dengan keji;
Bukan pula berkeinginan kuasa untuk melemahkan dan membujuk
Dengan sentuhan pikiran kacau, dan mengejar
Nestapa dan ragu takut dan duka serta kesakitan
Dari pikiran fana atau abadi. Demikianlah mereka
Menyatukan kekuatan dengan fikiran teguh,
Bergerak dalam diam menuju relung-relung yang yang meringankan
Langkah-langkah terseok di atas tanah yang terbakar. Dan kini
Dengan pandangan maju mereka berdiri- sebuah garis depan mengerikan
Yang panjangnya tak berhingga dan senjatanya berkilau-kilau, dalam wujud
Ksatria-ksatria kuno, dengan tombak dan tameng tersusun
Menanti perintah apa dari Komandan agung mereka
Akan diberikan. Dia menyusuri susunan prajuritnya
Melayangkan pandangan mata, dan segera menjangkau
Seluruh pasukan- susunan mereka,
Wajah dan sosok mereka ibarat para dewa;
Jumlah mereka dihitung olehnya. Dan kini hatinya
Mengembang dengan keangkuhan, dan mengeras kekuatanya
Kemilau; sebab tak pernah, sejak tercipta manusia
Berkumpul sedemikian pasukan, laksana mereka,
Bisa mengungguli pasukan kecil itu
Yang diperangi oleh burung-burung bangau- meski seluruh keturunan raksasa
Phlegra dengan bangsa para pahlawan digabungkan
Yang bertempur di Thebes dan Ilium, di tiap sisi mereka
Bergabung ditambah para dewa; dan apa yang digemakan
Dalam dongeng atau romansa putera Uther,
Dikelilingi para ksatria Britania dan Armorik;
Dan semua yang sejak itu, dibaptis maupun kafir,
Bertanding di Aspramont, atau Montalban,
Damaskus, Maroko, atau Tresibod,
Atau dia yang dikirim Biserta dari pantai Attic
Ketika Charlemain dan seluruh sekutunya terkalahkan
Oleh Fontarabbia. Sedemikan jauhnya diluar
Perbandingan kemahiran manusia, namun mematuhi
Panglima angkara mereka. Dia, di atas yang lainya
Dalam wujud dan sosok penuh sombong berbangga,
Berdiri tegak laskana menara. Wujudnya belumlah melenyapkan
Seluruh terangnya yang mula-mula, bukan pula menampakkan
Lebih rendah dari malaikat utama yang hancur, dan kelimpahan
Kemuliaan tersamar: laksana mentari baru terbit
Menembus ufuk udara berkabut
Tanpa sinar cahanya, atau, dari balik rembulan,
Dalam redup gerhana, senja menyelimuti
Separuh bangsa-bangsa, dan dengan ketakutan akan perubahan
Menyusahkan raja-rajanya. Begitu gelap, namun bersinar
Diatas mereka semua Malaikat Utama; namun wajahnya
Luka-luka dalam digarisakan halilintar, dan kesusahan
Di pipinya memudar, namun di bawah dahinya
Tampak keberanian teguh, keangkuhan pasti
Menunggu menuntut balas. Kejam matanya, namun melemparkan tatapan
Tanda-tanda penyesalan dan kesengsaraan, melihat
Rekan-rekan kejahatanya, para pengikut
(Begitu berbedanya ketika dulu dipandang di keberkahan), terkutuk
Sekarang dan selamanya merasakan sakit berlipat ganda
Berjuta-juta roh-roh karena kesalahanya terusir
Dari surga, dan dari kemuliaan kekal dilempakan
Karena pemberontakanya- namun begitu setia mereka tegak,
Kemuliaan mereka layu; laksana ketika api surga
Telah menghanguskan pohon oak di hutan dan cemara-cemara di gunung,
Dengan puncak hangus mereka tumbuh, meski gersang,
Berdiri tegak panas perapian yang tersambar. Dia kini bersiap
Berbicara; seketika barisan-barisan mereka digandakan dan dilengkungkan
Antara sayap-sayap, dan separuh melingkung melingkarinya
Dengan semua rekan-rekanya: perhatian membuatnya membisu.
Tiga kali ia mencopa, dan tiga kali, karena cela
Airmata seperti yang ditangiskan malaikat, bendung di mata: akhirnya
Kata-kata diantara desahan menemukan jalan keluarnya:
‘Wahai beribu-ribu ruh-ruh abadi! Wahai kekuatan
Yang tak bertanding, selain oleh yang kuasa! Perjuangan tersebut
Tidaklah hina, meskipun peristiwanya penuh kengerian
Sebagaimana teruji pada tempat ini, dan di sini kengerian itu berubah,
Hina untuk diucapkan. Namun kekuatan pikiran apa,
Yang melihat atau yang mengetahui sebelumnya, dari kedalaman
Pengetahuan lampau atau sekarang, bisa merasa takut
Bagaimana kekuatan bersatu para dewa, bagaimana yang sedemikian
Yang berdiri di sini, bisa mengenal pukulan mundur?
Sebab siapa yang belum bisa meyakini, walau sesudah kekalahan sekalipun,
Bahwa seluruh legion-legion yang perkasa itu, yang pengucilanya
Telah mengosongkan surga, akan gagal untuk mengggapinya kembali,
Membangkitan diri dan memperoleh kembali kedudukan asal mereka?
Bagikulah, jadilah saksi wahai semua malaikat-malaikat surga
Jika persetujuan berbeda, atau bahaya dijauhi
Dariku, telah melenyapkan harapan kita. Namun dia yang memerintah
Menjadi Raja di surga hingga saat itu aman
Duduk di atas tahtahnya, dipertinggi oleh kedudukan kuno,
Persetujuan atau tradisi, dan kedudukan kerajaanya
Ditunjukkan sepenuhnya, namaun masih menyembunyikan kekuatanya
Yang menggagalkan usaha kita, dan menimbulkan kejatuhan kita.
Maka dari sekarang kita tahu kuasanya, dan kuasa kita
Janganlah kita memancing, atau menimbulkan
Perang baru: bagian yang lebih baik bagi kita tetap
Bekerja dalam rancangan rahasia, oleh tipuan atau tipudaya,
Apa yang tidak bisa dicapai kekuatan; supaya dia setidaknya
Pada akhirnya mendapati pada kita, yang mengatasi
Dengan kekuatan telah mengatasi separuh musuhnya
Ruang boleh menghasilkan dunia baru; dimana begitu tersebar
Bersebar kemahsyuran di surga bahwa Dia tak lama berselang
Berniat menciptakan, dan disana menanamkan
Sebuah keturunan yang dipilihnya
Sebagai setara putera-putera Surga
Kesana kita harus mencari korban
Ke sana pembalasan pertama kita tertumpah
Sebab jurang neraka ini takkan pernah membelenggu
Ruh-ruh Surgawi dalam penghukuman, tidak pula jurang dalam
Panjang berselubung kegelapan. Namun rencana-rencana ini
Harus dipersiapkan matang. Damai telah hilang;
Sebab siapa yang mau tertakluk? Jika perang, maka peranglah
Terbuka maupun terselubung harus ditetapkan
Dia berbicara; dan, untuk meneguhkan kata-katanya, terhunus
Berjuta pedang berapi, dihunus dari paha-paha
Kerubim raksasa; kilauan tiba-tiba
Menerang sekeliling neraka. Amat besar amuk mereka
Menentang Yang Maha Tinggi, dan gananya dengan senjata tergenggam
Dihantamkan ke perisai-perisai mereka yang menyuarakan peperangan,
Melontarkan penentangan menuju dasar-dasar surga.
Tak jauh di sana berdiri sebuah bukit, yang puncak mengerikanya
Meluapkan api dan asap bergulung gulung; selebihnya seluruhnya
Disinari oleh kilat cemerlang- tidak diragukan pertanda
Bahwa di dalam perutnya tersembunyi batu logam,
Pekerjaan belerang. Kesana, dengan sayap terentang,
Sejumlah pasukan bergerak cepat: seperti ketika sekelompok
Perintis, bersenjata cangkul dan kapak,
Mendahului laskar-laskar kerajaan, untuk menggali daratan
Atau mendirikan pertahanan. Mammon memimpil mereka
Mammon, Ruh bungkuk yang terakhir terjatuh
Dari surga; meski di surga mata dan pikiranya
Selalu bengkok, yang lebih mengagumi
Kekayaan taman-taman surga, jalan emas yang ditapaki
Daripada menikmati yang lainya yang ilahi dan suci
Dalam penglihatan penuh berkah. Olehnya pertama kali
Manusia, dan oleh nasihat ajaranya,
Menghancurkan pusat bumi, dan dengan tangan durhaka
Mengeruk isi perut ibu pertiwi
Untuk harta-harta yang tersembunyi. Segera anggota-anggotanya
Menorehkan ke bukit itu luka menganga,
Dan menggali tulang-tulang rusuk emas. Jangan ada yang mengagumi
Kekayaan yang tumbuh dalam neraka; tanah itu paling bagus
Mendapatkan kutukan berharga. Dan disini biarlah mereka
Yang membual dengan harta, dan keheranan bercerita
Who boast in mortal things, and wondering tell
Tentang Babel, dan perbuatan-perbuaran Raja Memphis,
Belajar bagaimana tugu kemahsyuran mereka yang besar
Dan kuat, mudah dikalahkan
Oleh ruh-ruh pendosa, dan dalam satu jam
Apa yang dalam zaman mereka kerja keras tiada hentinya
Dan tangan-tangan tak terhitung jumlahnya hampir tak bisa melakukan.
Didekat dataran dimana banyak kurungan dipersiapkan,
Yang dibawahnya mengalir nadi nadi api
Mengalir dari Danau berapi, sejumlah besar kedua
Dengan seni tinggi menempa berlimpah pualam,
Memisahkan tiap jenis, dan  menyingkirakan kotoran dari biji-biji emas.
Yang ketiga segera membuat di bawah tanah
Beragam cetakan dan dari lubang-lubang kecil menggelegak
Dengan pemindahan yang ganjil mengisi tiap-tiap lubang kosong;
Seperti dalam sebuah organ dari satu hembusan angin,
Menuju banyak pipa dinafaskan papan suara.
Segera keluar dari bumi sewujud besar
Bangkit bak satu hembusan, dengan suara
Simfoni lembut dan lantunan lantunan manis
Dibangun laksana sebuah kuil, dimana tiang tiang bulat
Dipasang, dan tiang tiang melengkung dihimpit
Oleh lengkungan emas; tidak kekurangan juga
Atao lancip penopang sanggahan, dengan ukiran ukiran timbul;
Atapnya bersepuh emas. Tapi bukan dari Babylon,
Bukan pula dari Alkairo yang agungnya sedemikian
Setara dalam kejayaan mereka, untuk menyemayamkan
Belus atau Serapis tuhan-tuhan mereka, atau mentakhtakan
Raja-raja mereka, ketika Mesir dengan Assyria bertanding
Dalam kekayaan dan kemewahan. Tumpukan menjulang itu
Berdiri tegak dengan tinggi agungnya, dan pintu-pintunya,
Membuka lebar lipatan-lipatan kuninganya
 Di dalamnya, ruang-ruangnya yang luas dan halus diatas
Lantai-lantainya yang bertingkat; atap melengkunya,
Tergantung dengan sihir, setiap barisan
Lampu-lampu berbintang dan pelita-pelita menyala,
Oleh nafta dan asfaltus, memancarkan terang
Seperti terang dari langit. Rombongan yang terburu-buru itu
Masuk terkagum-kagum; dan beberapa memuji pekerjaan itu
Dan perancang-rancangnya. Tanganya dikenal
Di surga dari banyak bangunan tinggi bermenara,
Dimana malaikat-malaikat penjaga tongkat raja berdiam,
Dan duduk sebagai Pangeran, kepada siapa Raja semesta
Menumpahkan sedemikian kuasa, dan memberikan perintah,
Pada tiap-tiap tingkatan-tingkatanya,  perkumpulan terang cahaya.
Bukan pula namanya tak terdengar dan terdamba
Di Yunani kuno, dan di negeri Ausonia
Orang-orang memanggilnya Mulciber; dan bagaimana dia terjatuh
Dari Surga yang mereka dongengkan, dilemparkan oleh Jupiter yang murka
Curam di atas padang kristal, dari pagi
Hingga siang ia terjatuh, dari siang hingga malam berembun,
Di suatu hari pada musim panas, dan bersama matahari terbenam
Terlempar dari puncak cakrawala, seperti bintang jatuh,
Di Lemnos, pulau Aegea. Demikian mereka bercerita,
Bersalah; sebab dia dengan pemberontakan mengacaukan ini
Jatuh jauh sebelumnya; tidak ada juga yang membantunya kini
Untuk membangun menara-menara tinggi Surga; tidak pula ia lolos
Dengan segala rancangannya, melainkan dengan kepalanya dahulu dijatuhkan
Bersama rekan-rekan serancanganya, untuk membangun di Neraka.
Sementara bentara-bentara bersayap, dengan titah
Kuasa tertinggi, dengan upacara yang khidmat
Dan sangkakala bergema, diseluruh balatentara mengumumkan
Sebuah sidang agung yang akan segera dilaksanakan
Di Pandemonium, Ibukota agung
Tentang Setan dan rekan-rekannya. Panggilan mereka memanggil
Dari tiap kumpulan dan bentara lengkap
Dengan temptat atau pilihan terpantas: mereka segera
Ratusan dan ribuan pasukan datang
Menghadiri. Semua jalan penuh sesak; gerbang-gerbang
Dan serambi-serambi luas, tapi terutama balairung yang lebar
(Meski bagai padang-padang yang tertutup, dimana para juara pemberani
Biasa maju bersenjata, dan di takhta sultan
Menantang pasukan paynim unggulan
Untuk bertempur sampai mati, atau beradu dengan lembing),
Ramai dipenuhi, di dataran dan di udara,
Tersapu oleh sayap-sayap yang bergesekan. Seperti lebah
Di musim-panas, saat Mentari dengan Taurus menunggang.
Menumpahkan anak-anak mereka di sekitar sarang
Dalam kumpulan-kumpulan; di antara embun-embun segar dan bunga-bunga
Terbang kesana kemari, atau di atas papan-papan yang dihaluskan
Daerah pinggiran yang bentengnya dibangun dengan jerami
Yang baru dioles dengan lilin, berkumpul, dan merundingkan
Urusan-urusan negeri mereka. Begitu ramai kerumunan udara
Berkerumun sampit; hingga pertanda diberikan
Lihatlah sebuah keajaiban! Mereka yang saat itu tampak
Besarnya melebihi raksasa-raksasa putera bumi
 Kini lebih kecil dari kurcaci, dalam ruangan sempit
Kerumunan tak berhitung- seperti bangsa pygmea
Di balik gunung India; atau bangsa bangsa peri
Yang pesta-pesta di tengal malamnya, di tepi sisi hutan
Atau telaga, terlihat oleh petani yang terlambat pulang
Atau mimpi yang dilihatnya, sementara di atas kepala bulan
Duduk sebagai pengadil, dan lebih dekat ke bumi
Menunggangi jalanan suramnya; mereka dengan riang menari  
Penuh hasrat, dengan lagu memukau mempesonakan telinga
Segera dengan sukacita dan kegentaran hatinya menggema.
Demikan roh-roh halus hingga ke bentuk terkecil
Mengurangi bentuk besar mereka, dan langsung,
Meski tak terhitung, di tengah-tengah balairung
Dari sidang neraka itu. Namun jauh di dalam
Dan dalam ukuran mereka sebagai diri mereka
Para pembesar Serafim dan Kerubim
Dalam ruang tertutup dan rahasia pertemuan didudukkan
Ribuan setengah ilahi di takhta emas
Penuh. Setelah sesaat hening
Dan panggilan dititahkan, sidang agung dipermulakan
Reactions:

1 comment:

Pengunjung Blog

My Blog Rank

SEO Stats powered by MyPagerank.Net

Advertisement

Blog Archive

Translate

Popular Posts

Visitors

Total Pageviews

Powered by Blogger.

Followers

Google Followers